Game Boleh, Tapi Waktu Tetap Harus Dijaga: Cerita Tentang Adik dan Free Fire
Adik saya masih pelajar, dan seperti banyak anak zaman sekarang, dia gemar bermain game, terutama Free Fire atau FF. Karena saya tahu bermain itu bagian dari kesenangan anak-anak, saya batasin dengan google family saya beri dia waktu30 menit. Bukan larangan total, cuma pembatasan agar dia belajar mengatur waktu. Tapi ternyata, 30 menit itu justru menjadi awal dari drama panjang.
Adik saya mulai mengeluh: “Tidak cukup waktunya, kak. Baru mulai main, udah selesai.” Saya coba kompromi. Oke, saya tambahkan 30 menit lagi jadi total 1 jam. Tapi alih-alih puas, ia kembali protes. “Tiga jam belum tentu cukup. Teman-temanku udah dapat semua kartunya. Kalau besok ulang lagi!”
Saya pun mulai sadar bukan hanya soal waktu main, tapi ini soal kecanduan. Game bukan sekadar hiburan lagi, tapi sudah jadi tekanan sosial, ajang pembuktian di antara teman-temannya. Ia rela main selama 3 jam, bahkan mulai memikirkan untuk beli diamond (mata uang dalam game). Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk hal-hal lebih berguna.
Sebagai kakaknya, saya nggak tinggal diam. Saya aktifkan Google Family Link, batasi akses ke game, bahkan sempat saya blokir sepenuhnya. Mungkin dia kesal. Tapi lebih baik anak marah sekarang, daripada menyesal di masa depan karena terbiasa membuang waktu berjam-jam hanya demi pencapaian virtual.